Teknologi Nano bukan Sekadar Simcard Nano

Beberapa hari yang lalu, seorang dosen bertanya kepada saya, “Apa teknologi nano yang kamu ketahui?”

Saya menjawab dengan memulainya dari menjelaskan bahwa teknologi nano adalah suatu rekayasa terhadap material dalam ukuran skala nanometer, yaitu seper satu miliar meter. Kecil? Jelas.

Pertanyaan tidak berhenti sampai disitu. Beliau bertanya kembali,” Apa yang diubah? Ukurannya saja?”

Kemudian, beliau bertanya kembali, “Kira-kira, material nano apa yang kamu ketahui?”

Di sini saya mulai kebingungan, karena apabila saya menjawab simcard, ada kemungkinan saya diberikan pertanyaan lanjutan berupa apa bedanya dengan simcard berukuran micro yang berdasarkan ilmu yang saya ketahui, simcard berbeda ukuran itu hanya lebih mempersempit ukuran slot yang terdapat dalam smartphone. Karena hal itulah, saya pun menjawab bahwa suatu saat nanti akan ada detergen berukuran nano yang bisa membersihkan pakaian tanpa dibilas.

Jawaban saya bukan berasal dari khayalan pribadi. Hal ini pernah saya perbincangkan dengan rekan dan juga dosen lain. Hanya detailnya, seperti subtansi material jenis apa yang bisa membersihkan pakaian, apakah seperti detergen yang bersifat basa, atau apa, saya belum bahas lebih lanjut. Dari situ lah, dosen yang bertanya mengenai teknologi nano, menjelaskan mengenai teknologi canggih seperti apakah teknologi nano itu.

Berdasarkan diskusi ringan dengan dosen saya, beliau memaparkan bahwa perkembangan teknologi nano di negara kita belum sampai ke tahap semodern negara Jepang dan Amerika. Kita masih merangkak untuk menciptakan material berukuran nano karena keterbatasan device untuk produksi. Padahal pada tahun 2000, Bill Clinton menargetkan paling lambat tahun 2020 sebagian besar teknologi akan berbasis nano material. Target itu diutarakan dalam rancangan program NNI (National Nanotechnology Initiative). Hal ini memperlihatkan bahwa kita sudah cukup tertinggal jauh. So pathetic.

Kelebihan teknologi nano bukan hanya sekedar ukurannya saja yang semakin diperkecil. Faktanya, sifat-sifat material yang terdiri dari sifat fisika, kimia, dan juga biologi, berubah sangat drastis ketika ukuran bulky berubah menjadi skala nano. Contoh sederhana, sebuah logam tembaga yang berdiameter 6 nm ternyata memiliki kekerasan lima kali lebih besar daripada ukuran yang lebih besar.

Oke, mungkin itu contoh yang hanya mampu dibuktikan dengan riset. Saya beri contoh lain, misal Anda memiliki sebuah kawat panjang dan pendek dengan diameter yang sama. Lebih mudah membengkokkan kawat panjang atau kawat pendek? Jawabannya adalah dengan tangan kosong, kawat yang panjang lah yang lebih mudah dibengkokkan. Itu hanya contoh dari segi sifat fisika saja. Sudah bisa dibayangkan apabila merunut sifat kimia dan biologi, rekayasa material tersebut akan menghasilkan material yang lebih sederhana namun kompleks manfaatnya.

Dalam bidang apa saja teknologi nano diterapkan? Cukup banyak. Salah satunya dalam bidang farmasi, peneliti menyusun perubahan partikel untuk dosis obat yang awalnya dalam bentuk mikro menjadi nano. Sederhananya, partikel dalam obat –bila berukuran nano– maka akan lebih cepat terlarut dalam tubuh sehingga efisiensi kinerja obat dalam menyembuhkan bisa lebih cepat.


Kosmetik juga sudah mulai diciptakan partikel dalam ukuran nano. Sebagai contoh, krim tabir surya pada dasarnya memanfaatkan prinsip penghamburan cahaya. Jika ukuran partikel krim tabir surya memiliki ukuran yang lebih dari panjang gelombang cahaya ultraviolet, maka efek mengkilap akan muncul karena partikel krim tabir surya akan menghamburkan cahaya. Sedangkan apabila ukuran partikel krim tabir surya tersebut lebih kecil, cahaya akan melewati partikel krim sehingga tidak terjadi penghamburan cahaya lalu partikel akan menyerap sinar ultraviolet. Hal itu yang membuat krim tabir surya bisa menahan penggelapan wajah karena matahari.

Mengapa harus teknologi nano? Karena bukan hanya ukurannya saja yang lebih kecil, perubahan karakteristik yang tercipta pun akan semakin memudahkan kehidupan kita. Negara kita memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah. Pemanfaatan yang efektif dan efisien, jelas akan membuat negara ini akan tetap kaya sampai ratusan generasi selanjutnya.

Mampukah kita?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *