Industri Asuransi Diminta Manfaatkan Kemajuan Teknologi

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mendorong seluruh industri keuangan seperti asuransi untuk memaksimalkan kemajuan teknologi. Sebab, di tengah perkembangan teknologi yang cukup pesat, perusahaan tidak akan mampu berdaya saing tanpa adanya sistem teknologi.

“Ritel menggunakan teknologi, sehingga asuransi kalau tidak menerapkan teknologi untuk mengakses pelanggannya akan berat, tidak bisa berkompetisi,” kata Wimboh saat ditemui di Kompleks Bank Indonesia (BI), Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Seiring dengan gencarnya pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah, maka kebutuhan asuransi akan meningkat. Hal ini juga tidak terlepas dari derasnya kredit perbankan yang turut masuk.

“Bayangkan perumahan, begitu tol, LRT dibangun, rumah akan tumbuh, berapa ribu potensi nanti meng-cover asuransi, rumah itu pakai kredit, jarang harga kontan,” katanya.

“Kredit bank tidak mungkin pakai manual, pasti lewat asuransinya juga pakai teknologi. Teknologi merupakan pemicu yang bagus untuk industri sektor keuangan,” sambungnya.

Wimboh menegaskan bahwa selama ini bisnis asuransi cukup besar. Meski tidak seperti perbankan, setidaknya sektor ini telah tumbuh sekitar 8 persen. “Bisnis asuransi besar, tidak jauh dari bisnis bank. Asuransi memang tumbuhnya rendah, masih 8-7 persen,” katanya.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso mengungkapkan sejumlah pencapaian kinerja sektor keuangan di 2018. Meski kondisi keuangan dalam negeri dihantam berbagai faktor eksternal namun pertumbuhan ekonomi di akhir tahun bisa mencapai di atas 5 persen.

“Dengan guncangan global dan kondisi domestik kita bisa lakukan dengan baik sehingga tidak dipungkiri pertumbuhan ekonomi kita di atas 5 persen. Angka terakhir di Pak Wakil Menteri Keuangan (Mardiasmo). 5,2 persen atau 5,1 persen atau berapa paling tidak bisa di bulatkan menjadi 5,2 persen,” kata Wimboh dalam acara silaturahmi OJK dan Bank Indonesia (BI) awal tahun baru 2019 di, Gedung BI, Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Wimboh mengatakan, tidak hanya pencapaian pada pertumbuhan ekonomi saja, namun pertumbuhan kredit perbankan Indonesia juga cukup menunjukan tren positif.

Di mana, sepanjang 2018 pertumbuhan kredit telah berhasil mencapai dua digit dibandingkan periode tahun lalu. “Kredit growth kita lumayan kita sudah dua digit 12,45 persen tahun lalu (2017) hanya 8 persen,” imbuh dia.

Pencapaian manis lainnya juga ditujukan di sektor pasar modal Indonesia yang turut mengalami pencapaian positif. Salah satunya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) 2018 yang berhasil ditutup di atas 6.000.

“IHSG kemarin ditutup dengan angka 6.194. Di atas 6000. Tentunya ini masih banyak yang kita lakukan di 2019,” jelas dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *