Gunakan Teknologi, Islandia Ubah Karbondioksida Jadi Batu

Karbon dioksida (rumus kimiaCO2) atau zat asam arang adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaantemperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi kira-kira 387 ppm berdasarkan volume walaupun jumlah ini bisa bervariasi tergantung pada lokasi dan waktu. Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah dengan kuat.

Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.

Ahli sains Islandia saat ini tengah mencari cara untuk mengurangi jumlah karbondioksida di bumi. Belakangan, mereka menemukan teknologi yang bisa mengubah emisi berbahaya itu menjadi batu untuk selamanya.

Teknologi ini dikembangkan oleh Snaebjornsdottir beserta timnya yang terdiri dari insinyur dan peneliti dari perusahaan Reykjavik Energy, University of Iceland, France’s National Centre for Scientific Research (CNRS) dan Columbia University dalam proyek CarbFix.

CarbFix fokus melakukan injeksi karbondioksida (CO2) ke dalam batu basal berpori. Ketika CO2 melakukan proses mineralisasi, dia akan terperangkap di batu selamanya, seperti yang dilansir dari Phys, Jumat (10/5/2019).

Pabrik Carbfix berdiri di atas lapisan batu basal yang terbentuk dari lava dingin dengan akses tak terbatas ke mata air. Hal ini merupakan jackpot bagi Islandia, karena negaranya penuh dengan gunung api sehingga mendapatkan batu basal dari lava tidak sulit.

Proses Pemadatan Karbondioksida ke dalam Batu

Awalnya, karbondioksida ditangkap di udara dan dicairkan menjadi kondensat, lalu dilarutkan dalam air. Air dengan kandungan CO2 itu kemudian disalurkan ke dalam bangunan berbentuk igloo dan disuntikkan ke dalam batu 1.000 meter di bawah tanah dengan tekanan tinggi.

Ketika CO2 mengisi rongga-rongga batu basal dan bersentuhan dengan kalsium, magnesium dan besi, maka proses pemadatan sudah dimulai. Proses pemadatan membutuhkan waktu 2 tahun dari karbondioksida diinjeksi hingga benar-benar terserap ke dalam batu. Jauh lebih singkat dari proses natural yang mencapai ribuan tahun.

Sayangnya, proyek CarbFix tetap mengorbankan sumber daya alam untuk menunjang kegiatannya, yaitu air. Dibutuhkan 25 ton air per 1 ton karbondioksida yang diinjeksi ke dalam batu. Meski begitu, teknologi ini dinilai dapat mengurangi emisi karbon secara besar-besaran dan akan terus dikembangkan.

“Proyek ini memang butuh banyak air, tapi kita bisa ambil keuntungan yang lebih besar dari kehilangan air, yaitu menghilangkan CO2 dari muka bumi,” ungkap direktur proyek Carbfix, Edda Sif Aradottir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *